Top Picks
Inovasi DPK Kaltim, Program Buncu Baca Kini Hadir di 43 Titik Keramaian Rakornas KEK se-Indonesia, Kepala DPMPTSP Kutim Sebut Bahas Dua Isu Penting Sambut Kejurprov Panahan, Gubernur: Semoga Sukses dan Menghasilkan Bibit Handal Setelah Penerbangan Berau-Yogya, Bupati Sri Juniarsih Target Rute Makassar Kearifan Lokal di Festival Kampong Kuliner Tradisional Beberkan Potensi Pesat, Bupati Kutim: Miliki Lahan 22 H yang Dijadikan Pengembangan

DKP3A Kaltim Catat Angka Perkawinan Anak Terus Menurun

fokuskaltim.co - Berdasarkan data tahun 2021, angka perkawinan usia anak mengalami sedikit penurunan yakni 70 anak, sehingga total menjadi 1089 anak.

Sedangkan di tahun 2022 juga terjadi penurunan yang cukup signifikan sebanyak 309 anak. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kalimantan Timur, Noryani Sorayalita belum lama ini.

Adanya penurunan angka perkawinan usia anak yang terus diupayakan, diharapkan bisa sejalan dengan mandat yang diamanahkan Presiden dalam RPJMN 2020-2024 dan Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Stranas PPA).

Dalam Stranas PPA, pemerintah secara spesifik menargetkan penurunan angka perkawinan usia anak dari 11,21 persen (2018) menjadi 8,74 persen pada akhir tahun 2024 dan 6,9 persen tahun 2030.

Selain itu, pemerintah juga telah merubah batas usia minimal untuk perkawinan dari 16 tahun menjadi 19 tahun melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

“Kemudian melalui Instruksi Gubernur Nomor: 463/5665/III/DKP3A Tahun 2019 Tentang Pencegahan dan Penanganan Perkawinan Usia Anak,” ungkap Soraya

Perkawinan anak di Indonesia tidak terlepas dari adanya nilai-nilai yang tertanam di masyarakat Indonesia sejak lama yang mendukung atau menormalisasi perkawinan anak.

Tingginya angka perkawinan anak adalah salah satu ancaman bagi terpenuhinya hak-hak dasar anak, dan berdampak secara fisik serta psikis bagi anak-anak, Bahkan dapat memperparah tingginya angka kemiskinan, stunting, putus sekolah dan penyakit berbahaya.

“Salah satu kunci penting dengan pengasuhan yang positif bagi anak oleh orang tua dan lingkungan masyarakat, sehingga dapat menentukan baik buruknya karakter seorang anak kelak,” harapnya.

(Adv/Diskominfokaltim)

Baca Juga