Top Picks
DPK Kaltim Visitasi DPAD Yogyakarta Untuk Berbagi Ilmu untuk Optimalisasi Pendataan Perpustakaan di Kaltim Program Literasi Digital Percontohan Sasar Enam Kecamatan di Kutim Wagub Hadi Minta DPK Kaltim Bersabar dan Manfaatkan Gedung Yang Ada Perwakilan MKC Kabur Saat Rapat Bersama Korban Penggusuran, DPRD Kutim: Ini Bentuk Penghinaan Pensiun 1.600 Orang, Quota ASN Baru Hanya 250 Orang Dispora Kaltim Sasar Pemuda, Ajak Berwirausaha Menggandeng BUMDes

Arang Jau Apresiasi Petani Telen

Fokuskaltim.co - Di tengah gempuran berbagai usaha berskala besar. Mulai dari perkebunan sawit hingga batu bara. Tidak sedikit para petani mengalihkan lahannya di kedua sektor itu. Namun tidak disangka di Kecamatan Telen masih ada para petani yang bertahan.

Masih fokusnya para petani mengarap lahan. Menanaminya dengan berbagai kebutuhan komoditi nasional. Mulai dari coklat, sayur mayur hingga padi.

Pantaslah anggota DPRD Kutim Arang Jau memberikan penghormatan dan mengapresiasi keteguhan para petani ini.
“Saya apresiasi para petani telen yang masih peduli sektor pertanian,” terangnya.

Atas kesungguhan hati petani, dirinya akan terus berusaha mendorong sektor pertanian untuk tetap bertahan. Tetap tumbuh dan menyelaraskannya dengan perkembangan teknologi dibidang pertanian.”Guna memudahkan petani, kita akan carikan solusi untuk membantu. Baik lewat dana APBD, Provinsi hingga Pemerintah Pusat,” ujarnya di musyawarah perencanaan daerah BPU Kecamatan Telen beberapa waktu lalu.

Pernyataan tersebut disampaikan usai dirinya mendegarkan permintaan salah satu Kepala Desa di Kecamatan Telen. Permintaan Kepala Desa dalam pemenuhan bibit pertanian dilahan 200 hektare telah disiapkan dan direncanakan akan digarap tahun 2020.

Seperti di kutip dari laman Idn times, Bayu Krishnamurthi, Mantan Wakil Menteri Pertanian dan Perdagangan RI era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus Dosen Agribisnis Institut Pertanian Bogor mengungkapkan Data Menteri Pertanian menunjukkan jika tiap tahunnya 2 persen orang beralih dari sektor pertanian ke profesi lain.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2013 dari BPS, 61 persen petani Indonesia berusia di atas 45 tahun. Hal tersebut ditambah dengan lemahnya minat millennials terhadap industri pertanian dikarenakan sektor ini adalah profesi yang tidak prestisius dan belum terjamin masa depannya.

“Ini mengkhawatirkan, karena tanpa petani, tak ada produk-produk pertanian seperti pangan dan bahan baku industri,”terangnya

Untuk menarik minat pemuda, bayu menambahkan perlu adanya pertanian digital alias digital farming yakni metode bercocok tanam modern dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi dimana kaum mudah menguasainya. Pemantauan lahan dan perkembangan varietas bisa dilakukan melalui teknologi kecerdasan buatan yang terhubung pada gadget.

Teknologi ini bisa membantu meramal cuaca, menetapkan waktu dan volume yang tepat saat penyiraman, serta pemupukan. Dapat juga untuk membaca mana tanaman yang cocok dengan jenis lahan tertentu. 

Baca Juga